MNI|SRAGEN – Semangat kemanusiaan, kolaborasi lintas instansi, dan dedikasi tanpa mengenal lelah kembali ditunjukkan dalam operasi pencarian korban tenggelam di Sungai Bengawan Solo, tepatnya di wilayah Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Setelah berlangsung selama hampir dua hari dengan penyisiran secara intensif melalui jalur sungai maupun darat, Tim SAR Gabungan akhirnya berhasil menemukan korban, Irsad Rivai Musslih (19), pada Senin (20/7) malam dalam kondisi meninggal dunia.
Penemuan korban sekaligus menandai berakhirnya operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur penyelamat, aparat kepolisian, tenaga medis, relawan, serta masyarakat. Keberhasilan operasi tersebut menjadi wujud nyata sinergitas antarlembaga dalam menjalankan misi kemanusiaan, meskipun hasil yang diperoleh menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar.
Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari melalui Kapolsek Tanon Iptu Priyatno menjelaskan bahwa korban ditemukan sekitar pukul 20.20 WIB setelah adanya laporan dari warga yang melihat sesosok tubuh mengapung di aliran Sungai Bengawan Solo. Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Rescue SAR bersama personel gabungan segera bergerak menuju lokasi guna memastikan identitas korban sekaligus melaksanakan proses evakuasi sesuai prosedur.
Sekitar pukul 21.00 WIB, jenazah berhasil dievakuasi ke Posko SAR sebelum selanjutnya dibawa ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen untuk menjalani pemeriksaan medis dan proses identifikasi.
Selama operasi berlangsung, personel Pamapta Polres Sragen memainkan peran penting dalam menjaga keamanan lokasi, membantu penyisiran bersama Tim SAR, mengatur aktivitas di sekitar posko agar tetap tertib, hingga memberikan dukungan penuh dalam proses evakuasi korban. Di saat yang sama, Tim Inafis Satreskrim Polres Sragen bersama tenaga medis rumah sakit melakukan identifikasi serta pemeriksaan luar terhadap jenazah.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban dipastikan meninggal dunia akibat tenggelam.
Peristiwa tragis tersebut bermula pada Minggu (19/7) sekitar pukul 14.30 WIB ketika korban bersama dua rekannya berada di tepian Sungai Bengawan Solo di Dukuh Ngipang, Desa Gawan. Cuaca yang cukup terik membuat korban memutuskan turun ke sungai untuk berendam, meskipun diketahui tidak memiliki kemampuan berenang.
Salah seorang rekannya berupaya mendampingi korban saat berada di air. Namun nahas, korban terpeleset dan terseret arus sungai yang cukup deras. Rekannya yang berusaha memberikan pertolongan juga sempat ikut terbawa arus sebelum akhirnya berhasil diselamatkan berkat kesigapan warga yang melempar pelampung darurat dan memberikan bantuan secara cepat. Sementara itu, korban menghilang di bawah permukaan sungai.
Sejak laporan diterima, Polsek Tanon bergerak cepat bersama Basarnas Surakarta, BPBD Kabupaten Sragen, Tim SAR WKO Kedungombo, Damkar, TRC, personel Pamapta Polres Sragen, Tim Inafis Satreskrim, tenaga medis, relawan, serta masyarakat dengan mendirikan Posko SAR di sekitar lokasi kejadian.
Operasi pencarian dilakukan secara maksimal melalui penyisiran menggunakan perahu karet di sepanjang aliran Bengawan Solo serta penyisiran darat di bantaran sungai. Seluruh personel bekerja secara bergantian siang dan malam dengan tetap mengutamakan keselamatan personel di lapangan.
Setelah sekitar 29 jam pencarian tanpa henti, korban akhirnya ditemukan mengapung tidak jauh dari jalur penyisiran. Proses evakuasi berlangsung lancar sebelum jenazah dibawa ke rumah sakit untuk identifikasi akhir dan selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga.
Kapolsek Tanon Iptu Priyatno menyampaikan bahwa keluarga korban telah menerima peristiwa tersebut sebagai sebuah musibah dan secara resmi menyatakan penolakan autopsi melalui surat pernyataan. Setelah seluruh tahapan pemeriksaan kepolisian selesai dilaksanakan, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di Desa Gawan.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut. Menurutnya, keberhasilan menemukan korban merupakan hasil dari kerja sama yang solid antara Basarnas, BPBD, Tim SAR, Damkar, relawan, masyarakat, tenaga medis, serta seluruh personel Polres Sragen yang bekerja dengan penuh dedikasi hingga operasi dinyatakan selesai.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas berenang di Sungai Bengawan Solo, terutama pada lokasi yang memiliki arus bawah yang kuat serta kedalaman yang sulit diperkirakan. Keselamatan harus menjadi prioritas agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi," tegas Iptu Priyatno.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa Sungai Bengawan Solo memiliki karakteristik arus dan kedalaman yang dapat berubah sewaktu-waktu sehingga menyimpan potensi bahaya yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Di balik duka yang ditinggalkan, operasi pencarian ini juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan profesionalisme Tim SAR Gabungan bersama jajaran kepolisian serta seluruh unsur penyelamat dalam menjalankan misi kemanusiaan hingga tuntas. Sinergi tersebut menjadi cerminan komitmen bersama bahwa setiap upaya penyelamatan akan selalu dilakukan secara maksimal demi memberikan kepastian kepada keluarga korban sekaligus menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
punkasnya,Adji,HS.
